PRIA separuh baya itu duduk di halaman teras rumah gubuk di pinggir jalan
raya Banda Aceh – Meulaboh, tepatnya di Desa Jeumpheuk, Kecamatan Sampoinet,
Kabupaten Aceh Jaya. Sementara seorang remaja terlihat sibuk membersihkan
kotoran lembu di kandang yang menempeli sisi kiri “rumah” itu. Tak berapa lama
kemudian keluar seorang perempuan paruh dan anak kecil dari “rumah” itu. Itulah
keluarga Rasyidi (49).
Rasyidi adalah peternak sukses di Aceh Jaya, bahkan Aceh. Sebelum
menggeluti bisnis peternakan, dia dikenal sebagai sopir dump truck milik
seorang tauke di Banda Aceh. Suatu hari terlitas terlintas di pikirannya bahwa
menjadi sopir yang bekerja pada orang lain adalah tanpa akhir, tidak terjamin
masa tuanya.
Maka, tak berapa lama kemudian dia pun banting setir, pulang
kampung dan memutuskan menjadi peternak. Namun, usaha yang digeluti sejak 1997
dan sudah berbuah hasil 128 ekor lembu disapu tsunami pada 26 Desember 2004.
Dia pun harus merintis hidup baru dengan 4 ekor lembu selamat dari terjangan
tsunami.
Saat pertama kali dikunjungi Tabangun Aceh pada 31 Agustus
2012, usaha Rasyidi sudah membuahkan hasil 200 ekor sapi dan kerbau. Namun,
saat Tabangun Aceh, menyambanginya pada Senin siang (19/10/2015), usaha
peternakan Rasyidi kini sudah berkembang pesat. Saking banyaknya jumlah ternak,
dia pun tidak lagi ingat angka persisnya.
“Alhamdulillah, sekarang Allah titipkan pada kami sekitar
400 ekor sapi dan 50 ekor kerbau. 250 ekor saya pelihara sendiri dan 200 lagi
saya titipkan pada masyarakat kurang mampu dengan sistem bagi hasil,” kata
Rasyidi didampingi Usman, kepala Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Jeumpheuk,
Sampoiniet.
Harga jual lembu berkisar antara Rp 15 - 45 juta per ekor. “Kalau
lembu lokal berkisar antara 15 – 25 juta, sementara yang bibit unggul bisa
mencapai 24-45 juta per ekor. Tahun lalu saya menjual dua ekor lembu jenis
Simental dengan berat masing-masing 1,2 ton sehara 45 juta rupiah per ekor”, kata
ayah empat orang anak ini.
Berapa kekayaan Rasyidi? Tinggal ambil kalkulator dan kalikan saja
jumlah ternak yang dimilikinya. Melihat usaha Rasyidi yang awalnya hanya
sebagai kerja sampingan kemudian berkembang dengan gemilang, maka tidak alasan
mengeluh sulitnya lapangan kerja di Aceh.
Salah satu lembu peliharaan Rasyidi mendapat juara II
pada expo yang digelar di Aceh Tengah beberapa waktu lalu. Bagi anda yang
berminat merintis usaha ternak lembu atau pejabat terkait yang hendak mencari
inspirasi program peternakan, tidak ada salahnya melakukan studi banding ke
lokasi perternakan Rasyidi di Aceh Jaya. Rasyidi yang penyayang lembu ini
bersedia berbagi pengetahuan dengan orang lain, apalagi pejabat dinas terkait. (hasan
basri m nur)
![]() |
| Wartawan Tabangun Aceh mewawancarai Rasyidi kembali pada Oktober 2015 | Foto Irfan M Nur |
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 51 | OKTOBER 2015



0 Comments