Butuh Bibit Lembu Unggul

Rasyidi dan ternaknya, Oktober 2015 | Foto: Irfan M Nur
“Memelihara ternak bibit unggul lebih menguntungkan, karena menghabiskan waktu yang sama tapi hasilnya berbeda. Lembu bibit unggul beratnya bisa mencapai 1,2 ton dan laku 45 juta rupiah per ekor.”

SELAMA ini, Rasyidi hanya memelihara dan mengembangkan lembu lokal (leumo Aceh). Sementara untuk lembu bibit unggul nyaris tidak ada. Padahal memelihara lembu bibit unggul jauh lebih menguntungkan secara ekonomi.
“Dari 400 ekor lembu yang saya pelihara hampir tidak ada dari bibit unggul. Pada tahun 2013 sempat ada dua ekor lembu jantan jenis “Simental” tapi ukuran sudah mencapai target lalu keduanya saya jual dengan harga Rp 90 juta”, ungkap Rasyidi.
Sebelum dijual, Rasyidi sempat mengawinkan lembu jantan “Simental” itu dengan betina Aceh. “Perkawinan silang ini menghasilkan anak yang lumayan besar meskipun tidak sebesar ayahnya”, katanya sambil menunjuk anak lembu hasil perkawinan silang itu.
Rasyidi sangat membutuhkan bibit lembu unggul seperti Simental, Bhrahma atau Limousine. Bibit-bibit unggul ini lebih menguntungkan bagi peternak, karena menghabiskan waktu pemeliharaan yang sama tapi harga harga jual sangat jauh berbeda.
“Sebagai contoh, lembu jenis Simental usia 3-4 tahun bisa dijual dengan harga Rp 25-45 juta. Sementara kalau bibit lokal untuk masa yang sama hanya laku sekitar Rp 15-20 juta. Jadi, bibit unggul jelas lebih menguntungkan dari segi ekonomi,” katanya seraya mengharapkan bantuan pihak terkait untuk membantunya dalam mengembangkan bibit unggul. (hasan basri m nur)

Integrasikan Bisnis Lembu dan Perkebunan
“Rasyidi menempatkan ratusan sapinya 
di lahan kosong 20 ha 
yang dipagari.”
RASYIDI memang cerdas dan berwawasan luas. Ternak sapi yang biasanya menjadi masalah bagi lingkungan karena berkeliaran dan buang hajat sembarangan dapat dia tangani dengan cerdas. Dia menempatkan sapinya di sebuah lahan kosong yang juga dibeli dari hasil peternakan.  Luas lahan itu mencapai 20 ha. Dia memagarinya dan  menanam karet di dalamnya. Di sela-sela tanaman karet dia menaman rumput untuk kebutuhan makanan lembu.
“Dengan cara ini ternak lembu tidak berkeliaran di jalan raya dan kebutuhan makanannya cukup. Lembu-lembu dengan leluasa merumput dari pagi hingga sore. Menjelang maghrib mereka akan kembali ke kandang. Jadi, saya tak perlu bersusah payah memotong rumput untuk mereka,” kata Rasyidi.
“Selain itu, tanaman karet juga mendatangkan rezeki tersendiri. Kalau kata ada orang Aceh, sipat tak dua pat lhuet. Artinya dari ternak lembu mendapat untung dari kebun karet juga dapat,” sambungnya seraya menambahkan dari kebun karet sudah mulai panen sejak dua tahun lalu.
Dari usaha ternak ini Rasyidi telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya, bahkan  hingga Perguruan Tinggi di Banda Aceh, menyetor Ongkos Naik Haji untuk keluarganya, membangun bengkel mobil, menjadi muzakki (pembayar zakat) rutin, berqurban, membuka usaha kebun karet, kebun sawit, merekrut tenaga kerja lokal dan banyak lagi.
Melihat usaha Rasyidi yang gigih dan inovatif, kiranya instansi-instansi terkait perlu membantu Rasyidi untuk bekerja lebih profesional lagi, seperti penyediaan alat pembersih kotoran hewan, kesehatan keluarga, saluran air di lahan peternakan, penyediaan bibit-bibit lembu unggul seperti “Simental”, “Bhrahma” dan “Limousine”. Bahkan, dapat menjadikan Rasyidi sebagai penggerak masyarakat untuk gemar berternak lembu di Aceh. Semoga! (hasan basri m nur)
Rasyidi dan ternaknya, Oktober 2015 | Foto: Irfan M Nur

Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 51 | OKTOBER 2015

Post a Comment

0 Comments