Butuh Komitmen Kuat Mewujudkan Kebijakan Responsif Gender


“Pengarusutamaan Gender meningkatkan akuntabilitas pemerintah serta memperkuat kehidupan sosial, politik dan ekonomi suatu bangsa.”

-- Muzafar MM
Kasubbid Pengembangan Kualitas SDM, Keistimewaan dan Kebudayaan Bappeda Aceh



“Koordinasi ini dilakukan secara lintas sektor baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun pemantauan kegiatan. Untuk itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari kita agar terwujud kebijakankebijakan yang responsif gender di Aceh.”

-- Mountie Syurga ST MT --
Kepala Bidang P2KSDM Bappeda Aceh


KEpala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Aceh, Prof Dr Abubakar Karim MSc meminta kepada seluruh pejabat yang menangani Pengarusutamaan gender di Aceh, agar terus meningkatkan koordinasi antarpara pemangku kepentingan. Ini dimaksudkan untuk mewujudkan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan, serta sistem kelembagaan yang responsif gender.

Permintaan tersebut disampaikan Kepala Bappeda Aceh dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Keistimewaan Aceh dan Sumber Daya Manusia (P2KSDM) Bappeda Aceh, Mountie Syurga ST MT, ketika membuka Rapat Koordinasi Pengarusutamaan Gender (PUG) di ruang rapat Bappeda Aceh, Selasa (8/9/2015).

Rakor PUG tersebut dihadiri sekitar 70 orang yang terdiri atas kepala dan kepala bagian program 10 SKPA, serta seluruh Bappeda dan SKPK kabupaten/kota seAceh yang menangani PUG. Bappeda merupakan Ketua Kelompok Kerja PUG. 

“Koordinasi ini dilakukan secara lintas sektor baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun pemantauan kegiatan. Untuk itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari kita agar terwujud kebijakankebijakan yang responsif gender di Aceh,” kata Mountie.

Kepala Bappeda berharap rapat koordinasi itu akan diperoleh terobosanterobosan baru dan strategi yang dapat diaplikasikan untuk mempercepat pelaksanaan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Sementara itu, Kasubbid Pengembangan Kualitas SDM, Keistimewaan dan Kebudayaan Bappeda Aceh, Muzafar MM yang tampil sebagai narasumber dari Bappeda Aceh,  memaparkan Peran Bappeda dalam Pengarusutamaan Gender di Aceh.

Muzafar menyampaikan PUG perlu diintegrasikan dalam pembangunan, dengan alasan karena masih ada kesenjangan hasil capaian pembangunan antara perempuan dan lakilaki di hampir segala bidang pembangunan. “Pengarusutamaan Gender meningkatkan akuntabilitas pemerintah serta memperkuat kehidupan sosial, politik dan ekonomi suatu bangsa,” ujarnya.

Pengintegrasian tersebut, kata Muzafar, dapat dimulai dari perencanaan yaitu melalui dokumen perencanaan, penganggaran, hingga implementasi dan evaluasi. Ia menyebutkan, ada empat lembaga driver di dalam kelompok kerja daerah yang berkaitan dengan PUG ini yaitu Bappeda, Dinas Keuangan, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Inspektorat.


Peraturan Gubernur Aceh nomor 6 tahun 20014 pada pasal 9 mengamanatkan Bappeda Aceh berperan dalam mengkoordinasikan perencanaan dalam menyusun perencanaan yang Responsif Gender (RPJMA, Renstra, Renja dan RKA); melakukan penguatan kapasitas tenaga teknis perencana dan program SKPA tentang perencanaan dan penganggaran responsif gender; Melakukan supervisi terhadap SKPA dan meminta laporan kinerja pencapaian pelaksanaan PPRG dari SKPA dan mengkompilasikannya untuk disampaikan kepada Gubernur.(firman)

Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 50 | SEPTEMBER 2015

Post a Comment

0 Comments