Kepala Bidang
Perdagangan Luar Negeri Disperindag Aceh, Nurdin memaparkan, untuk periode
Januari-September 2015, jumlah eksportir yang melakukan ekspor komoditi
nonmigas mencapai 26 orang dengan volume 718.689,975,10 kg dengan nilai
59.549,229,16 dolar AS atau senilai Rp 833,6 miliar. Jenis komoditi yang
diekspor didominasi kopi arabika, kopi robusta, kopi luwak, ikan tuna, pinang,
daun pandan kering, dan lainnya.
Dibandingkan dengan volume dan nilai ekspor komoditi non migas
periode Januari - Desember 2014, ekspor tahun ini nilainya meningkat 3,1
persen, sedangkan volumenya menurun 33,8 persen. Volume ekspor tahun lalu,
79.462.317,34 kg, dengan nilai 57.748,644,69 dolar AS atau senilai Rp 808,4
miliar.
“Jumlah pelakunya juga menurun, tahun lalu mencapai 35 perusahaan,
tahun ini ada 26 perusahaan. Di sini
lah, diperlukan setiap tahun dilaksanakannya pelatihan pendidikan dan
ketrampilan ekspor dan impor,” kata Nurdin.
Jenis komoditi yang
diekspor, sebut Nurdin, hampir sama, kopi, ikan tuna segar, kelapa, wortel,
tomat, kentang, cengkeh, jahe segar, kemiri, kacang, tuna loin, berbagai jenis
ikan kerapu hidup, kepiting, lobster, udang windu, tenggiri segar, kerajinan
tangan dan lainnya.
Khusus untuk kopi, tahun 2015 ini, volume ekspor kopi dari Aceh
bisa mencapai 500 ton. Ini baru posisi September, kalau sampai Oktober bisa
naik lagi menjadi 600-700 ton.
“Karena itu kita jangan anggap enteng dengan petani kopi di
dataran Tinggi Gayo. Perputaran uang di sana cukup tinggi, mencapai triliunan
rupiah. Itu baru dari kopi, belum lagi dari komoditi lainnya, yakni kentang,
wortel, kol, alpukat, dan sayuran lainnya,” kata Nurdin.
Untuk pelabuhan dan bandara yang digunakan, Nurdin menyebutkan,
ada sembilan, yaitu Pelabuhan Belawan, Bandara Kuala Namu, Bandara
Internasional Sultan Iskandar Muda, Pelabuhan Malahayati Krueng Raya, Pelabuhan
Sabang, Pelabuhan Kuala Langsa, Pelabuhan Samudera Pase, dan Pelabuhan
Bakongan.
Untuk
barang impor, sebut Nurdin, periode Juli- September 2015, volume dan
nilianya rendah. Volumenya 2.234.885 Kg ditambah 1000 box, dengan nilai
1.357.065,20 dolar AS, atau senilai Rp 18,9 miliar.
Selain biji kopi yang terus meningkat, volume kelanjutan produksi
lainnya selalu mengalami pasang surut. Tahun ini bisa ada, tahun depan belum
tentu bisa dilakukan hal yang sama.
“Ini harus menjadi program utama bagi dinas teknisnya, agar
kelanjutan ekspor kentang, wortel, kol, alpukat dan jenis sayuran lainnya dari
Aceh ke luar negeri bisa terus berlanjut untuk kemakmuran dan kesejahtraan
petani di Aceh,” demikian Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag
Aceh, Nurdin.(heri hamzah)
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 50 | SEPTEMBER 2015
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 50 | SEPTEMBER 2015

0 Comments