Para ilmuan telah melakukan percobaan-percobaan untuk memperkirakan besarnya akibat yang ditimbulkan oleh degradasi lahan tersebut, termasuk dengan mendisain berbagai model dan mengujinya di lapangan, untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh permasalahan tersebut.
Dari tahun ke tahun, banjir terus saja yang melanda Aceh. Kerugian yang dialami
oleh masyarakat akibat banjir tersebut tidaklah sedikit. Apabila permasalahan
banjir ini tidak ditangani secara serius dan profesional tentu akan menyebabkan
penderitaan dan menyengsarakan masyarakat.
Curah hujan serta karakteristik biofisik dan geomorfologi suatu daerah aliran sungai (DAS),
seperti jenis tanah, kelerengan, struktur DAS (luas, keliling DAS, panjang
sungai, bentuk DAS, tipe jarigan sungai, orde sungai dan kerapatan jaringan
drainase) serta penutupan lahan, akan berpengaruh terhadap besarnya banjir pada
suatu DAS. Perubahan penggunaan lahan juga menyebabkan permasalahan lain yang
terkait dengan tanah dan air.
Banyak program yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini. Para
ilmuan telah melakukan percobaan-percobaan untuk memperkirakan besarnya akibat
yang ditimbulkan oleh degradasi lahan tersebut, termasuk dengan mendisain
berbagai model dan mengujinya di lapangan, untuk mengurangi kerugian yang
ditimbulkan oleh permasalahan tersebut.
Dampak transformasi lahan hutan, perkebunan, pertanian ke lahan
pemukiman dan industri akan mengganggu keseimbangan energi (energy balance)
di permukaan tanah. Dalam kondisi ekstrem, alih fungsi lahan berdampak terhadap
pengurasan cadangan air tanah (water storage), penurunan produksi
air DAS, meningkatkan konsumsi air
tanaman melalui transpirasi dan yang paling menakutkan adalah banjir.
Pada musim hujan kondisi lahan yang berpenutup permanen menyebabkan
sebagian besar volume air hujan ditransfer menjadi aliran permukaan langsung (direct
runoff). Akibatnya, besaran (magnitude) banjir baik berupa
intensitas, frekwensi dan durasinya terus meningkat di beberapa kota besar
belakangan ini.
Menyedihkan lagi kerusakan lahan yang sangat luas tersebut hanya
diantisipasi secara parsial. Hal ini menyebabkan mengapa masalah banjir
seolah-olah tidak bisa diselesaikan. Agar permasalahan tersebut dapat diatasi
atau paling tidak mereduksi dampaknya maka pemodelan banjir DAS menjadi penting
dalam pengelolaan DAS.
Degradasi
dan transformasi baik jenis, komposisi, proporsi dan kualitas vegetasi di
bagian hulu (upstream) dan di bagian hilir (downstream) DAS,
lajunya terus meningkat serta tidak terkendali. Bentuk dan pola degradasi yang
terjadi sangat beragam mulai dari: (1) penurunan kerapatan dan jenis vegetasi;
(2) perubahan tipe vegetasi penutup lahan (land cover type) dan (3)
impermeabilitas yaitu perubahan lahan budidaya (cultivated land) menjadi
lahan pemukiman yang permukaannya kedap air
(non cultivated land yang impermeable).
Ketiga pola tersebut masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda
dalam hal: pelaku, luas areal dan dampak yang ditimbulkan. Pola pertama umumnya
dilakukan masyarakat di sekitar kawasan hutan untuk memenuhi kebutuhan kayu
bakar dan menyambung hidupnya yang sangat terbatas.
Sementara pola kedua dilakukan oleh masyarakat yang lapar tanah akibat
distribusi, alokasi dan pemilikan lahan yang timpang dalam masyarakat. Pola
kedua juga dapat terjadi akibat pemanfaatan masyarakat lokal oleh pemodal kuat
untuk menguasai tanah negara (hutan lindung).
Sedangkan pola ketiga, umumnya dilakukan oleh pemodal kuat dan
orang-orang yang punya pengaruh serta
akses kepada penguasa, dengan areal yang sangat luas dengan karakteristik
permukaannya tidak meloloskan air (impermeable area). Berdasarkan hasil
pemantauan di lapangan, maka pola ketiga mempunyai dampak yang paling merusak
terhadap: siklus hidrologi, banjir dan dalam jangka panjang dapat memicu
terjadinya krisis air (water crisis) yang akut dan berkepanjangan.
Pada pola ketiga umumnya pelaku mempunyai akses yang kuat terhadap
pengambil kebijakan baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten/kota. Saat
ini terdapat beberapa DAS di Aceh berada
dalam kondisi sangat kritis, selain minimnya vegetasi yang tumbuh, kondisi
kritis juga terlihat dari laju erosi dan tebalnya sedimentasi di aliran sungai.
Untuk mencegah banjir dan menanggulangi degradasi lahan maka strategi
berikut harus menjadi prioritas. Pertama, kaji ulang Rencana Tata Ruang
Aceh (RTRWA) dan perlu segera menyusun Tata Ruang Propinsi berbasis DAS dan
dijadikan sebagai hukum, mengingat seringnya terjadi banjir dan longsor yang
telah banyak merenggut harta, benda dan jiwa manusia akhir-akhir ini.
Kedua, penyimpangan tata
ruang yang sudah berbasis DAS harus dicegah. Ketiga, semua sumber daya
lahan harus diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya. Keempat,
penggunaan lahan harus didasarkan pada kemampuan lahan. Kelima,
teknologi konservasi tanah dan air yang memadai harus diterapkan di setiap tipe
penggunaan lahan. Keenam, penyusunan qanun Pengelolaan DAS perlu
dipercepat. Ketujuh, SKPA terkait harus memprogramkan pencegahan banjir
dan degradasi lahan sebagai prioritas utama. Kedelapan, Pemerintah Aceh perlu
memasukkan materi pencegahan banjir, degradasi lahan, penerapan teknologi
konservasi tanah dan air dalam kurikulum pendidikan.
Kesembilan, Pemerintah Aceh perlu
melakukan sosialisasi dan pencerahan yang lebih serius kepada aparatur
pemerintah dan masyarakat tentang perlunya pemeliharaan DAS dan cara
melakukannya, dengan mengundang pakar-pakar yang mengerti tentang hal tersebut,
sehingga tenaga, fikiran dan biaya tidak terbuang percuma. Kesepuluh,
kepada stakeholders supaya sama-sama meningkatkan akurasi data yang
dibutuhkan dalam peningkatan pengelolaan DAS, termasuk menjaga alat ukur curah
hujan dan debit air sungai yang telah terpasang di berbagai lokasi.
Wallahu’alam bissawab.
* Dr. Husnan, ST, MP adalah alumnus IPB Bogor dan Aparatur Sipil Negara pada Bappeda Aceh.
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH
- EDISI 50 | SEPTEMBER 2015


0 Comments