![]() |
| Suasana pelabuhan Malahayati, foto direkam Sabtu, 19/9/20115. | Foto: Irfan M Nur |
Ada banyak keuntungan jika
menggunakan layanan peti kemas, selain efisiensi waktu, pengusaha juga akan
tidak terbebani dengan ongkos angkut yang mahal.”
-- Al Abrar --
GM PT Pelindo I Cabang Malahayati
SEBUAH Crane
dengan ukuran besar hampir berdiri sempurna di Pelabuhan Malahayati, Krueng
Raya Aceh Besar. Crane ini bisa dipindah sesuai dengan tempat pendaratan kapal.
Harbour Mobile Crane (HMC) buatan Jerman dengan bobot 300 ton ini masih dalam
proses rakitan untuk bisa digunakan pada November mendatang.
Pelabuhan Malahayati memang sedang berbenah. Kini tinggal sedikit
lagi wajah Malahayati akan kembali segar dengan hadirnya kapal-kapal ukuran
besar membawa peti kemas alias kontainer penuh barang untuk didistribusikan ke
masyarakat.
GM PT Pelindo I Cabang Malahayati, Al Abrar mengatakan menyikapi
trend perdagangan internasional yang kini cenderung menggunakan peti
kemas demi efisiensi, maka pelabuhan Malahayati pun akan mengaktifkan layanan
peti kemas untuk mengangkut barang-barang kebutuhan masyarakat.
“Ada banyak keuntungan jika menggunakan layanan peti kemas, selain
efisiensi waktu, pengusaha juga akan tidak terbebani dengan ongkos angkut yang
mahal. Dampaknya kepada masyarakat juga akan positif dimana harga barang bisa
lebih rendah dan daya beli masyarakat jadi meningkat,” ujar Abrar.
PT Pelindo I menargetkan pemasangan mobile crane akan tuntas pada
akhir September 2015 nanti. PT Pelindo I selaku operator selanjutnya akan
mengumumkan kepada berbagai perusahaan pelayaran barang di Indonesia dan luar
negeri mengenai telah tersedianya fasilitas crane tersebut.
Menurut Al-Abrar, Pelindo sebagai BUMN terus berupaya meningkatkan
pelayanan kepada pengguna jasa. Apalagi perusahaan negara ini bergerak di jasa
kepelabuhan, maka semakin ke depan akan terus-menerus melakukan pengembangan
dan improvement berkelanjutan baik fasilitas maupun peralatan.
Selama ini, sebut Al-Abrar mencontohkan, bahan kebutuhan pokok
untuk daerah-daerah di Aceh seperti Pidie Jaya, Pidie, Aceh Besar, Sabang, dan
Aceh Jaya, mencapai 2000 box peti kemas perbulannya atau satu box kapasitasnya
mencapai 25 ton.
“Nah, barang tersebut selama ini diangkut dari Medan, bahkan dari
Jakarta ke Aceh menggunakan truk, pasti dengan cost yang lebih tinggi. Tapi
dengan adanya crane di pelabuhan ini, tentunya barang bisa dibawa menggunakan
kapal laut dengan ongkos yang lebih murah,” ujarnya.
Saat ini sudah ada dua perusahaan pelayaran yang siap dan
berkomitmen untuk melayani pola trayek operasional Malahayati-Belawan-Tanjung
Priok atau sebaliknya, yaitu perusahaan semen PT Semen Padang (Semen Indonesia)
dan PT Lafarge Cement Indonesia. Sedangkan komoditas yang dibawa keluar dari
Pelabuhan Malahayati berupa semen.
Al Abrar juga mengaku kini PT Pelindo I juga terus berkoordinasi
dengan pemerintahan setempat dan pemerintahan propinsi Aceh untuk bisa
mensosialisasikan keberadaan pelabuhan yang kini sudah melayani pelayaran peti
kemas.
“Setidaknya selain mengimbau kepada para pelaku usaha dan pelaku
ekspor untuk bisa memanfaatkan pelabuhan Malahayati sebagai sarana angkut
barang-barang milik mereka, juga bisa mengeluarkan regulasi untuk aktifitas
pelabuhan tersebut,” katanya.
PT Pelindo I juga berencana meminta untuk bisa mengoperasikan
pelabuhan Calang guna melayani pelayaran angkut barang curah CPO. “Di kawasan
pantai barat selatan Aceh memang produksi CPO sangat baik dan selama ini selalu
diangkut dengan tangki, namun jika diangkut dengan kapal tentu akan lebih
mengiritkan biaya operasional pengusaha,” ujarnya.
Pelabuhan Malahayati adalah satu diantara banyak pelabuhan yang
dijadikan bagian dari pembangunan tol laut di Indonesia oleh Presiden Joko
Widodo. Demi mengimplementasikan program tol laut Indonesia, pembangunan dan
penyediaan fasilitas di Malahayati pun dikebut. Termasuk pengadaan crane asal
Jerman dengan bobot 300 ton yang kini hampir rampung pemasangannya.
Pembangunan infrastruktur adalah kata kunci konektivitas ekonomi
antarwilayah Indonesia agar bisa tumbuh dan berkembang bersama-sama
di seluruh sektor. Dengan demikian, pemerataan pembangunan bisa dirasakan
rakyat banyak.(yayan zamzami)
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 50 | SEPTEMBER 2015
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 50 | SEPTEMBER 2015


0 Comments