|
|
“Saat ini untuk pengolahan
Dendeng
membutuhkan daging sapi rata-rata
950-1000 kg perbulan, sedangkan bakso
1000-1500 kg perbulan. Semua daging
tersebut adalah yang berasal sapi
lokal
Aceh.”
-- Ridwan SP MP --
|
Dinas Kesehatan
Hewan dan Peternakan Aceh melakukan beberapa langkah untuk menambah nilai
tambah bagi sektor peternakan di Aceh. Mulai dari pembinaan kepada peternak
maupun pengusaha di bidang hasil peternakan, hingga membantu pemasaran produk
serta memfasilitasi permodalan sektor usaha peternakan.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Bina Usaha
Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Ridwan SP MP kepada Tabangun Aceh di
Ruang kerjanya, Jumat (16/10/15) lalu.
Ridwan menjelaskan, untuk tahun 2015 dan 2016
ada tiga fokus yang dilaksanakan, yaitu pengolahan daging dengan hasil dendeng,
bakso, pengolahan telur asin, sampai kepada kerupuk kulit. “Saat ini untuk
pengolahan dendeng membutuhkan daging sapi rata-rata 950-1000 kg perbulan,
sedangkan bakso 1000-1500 kg perbulan. Semua daging tersebut adalah yang
berasal sapi lokal Aceh,” ujarnya.
Pembinaan yang dilakukan
adalah melakukan pembimbingan teknis bagaimana pengolahan daging yang higenis
sampai dengan membantu peralatan yang dibutuhkan. “Misalnya untuk dendeng kita
telah membantu rumah kaca penjemuran daging. Bantuan tersebut hanyalah bersifat
stimulan dari pemerintah yang diberikan kepada pengusaha andalan saja,”
katanya.
Pengusaha maupun kelompok usaha dendeng yang
sudah termasuk andalan di Aceh, antara lain: Usaha Dendeng Seulawah, Blang
Rakal, Mahkota, Bungong Jaro, serta dendeng produksi usaha Pesantren Imam
Syafi’i di Aceh Besar.
Dendeng siap saji
Ridwan menyebutkan, dalam beberapa expo yang
dilaksanakan di dalam maupun luar negeri, dendeng Aceh selalu selalu menjadi
primadona dan diminati oleh konsumen. Kebanyakan konsumen juga meminta dendeng
yang siap saji (lansung bisa dimakan).
“Untuk memenuhi permintaan tersebut kita
meminta kepada pengusaha dendeng agar menjawab tantangan tersebut, tentu tidak
terlepas dari pembinaan yang kita laksanakan,” ujarnya.
Untuk hal tersebut, Diskeswannak Aceh bekerja
sama dengan Jurusan Peternakan Unsyiah melakukan penelitian untuk dapat
menghasilkan dendeng siap saji dengan mutu dan cita rasa yang tinggi. Hal
tersebut juga dalam rangka untuk menyambut Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan
Andalan (Penas KTNA) XV yang akan berlangsung di Aceh tahun 2017 mendatang.
Mitra BRI
Selain pembinaan pengolahan hasil,
Diskeswannak juga memfasilitasi peternak untuk mendapatkan modal usaha di
sektor peternakan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dengan program KKPE (Kredit
ketahanan Pangan dan Energi) ini semua petani dapat mengakses modal kerja
tersebut, asalkan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
“Fungsi
Diskeswannak Aceh memberi rekomendasi dan melakukan bimbingan Teknis kepada
peternakan, sedangkan besaran modal yang akan diberikan ditentukan oleh bank
sesuai dengan kapasitas usaha yang dimiliki oleh kelompok peternak tersebut,”
kata Ridwan.(cekwat)- Harus berkelompok dan sudah memulai usahanya;
- Kelompok tersebut terdaftar di Badan Ketahan Pangan masing-masing kabupaten/kota;
- Mendapat rekomendasi dari Diskeswannak Aceh.
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 51 | OKTOBER 2015


0 Comments