![]() |
| Lembu milik Rasyidi peternak asal Aceh Jaya, foto direkam Oktober 2015. | Foto: Irfan M Nur |
Di sektor
pertanian, sub sektor peternakan merupakan salah satu kegiatan utama masyarakat
Aceh, sehingga sub sektor ini sangat potensial untuk dikembangkan. Hampir
setiap keluarga di Aceh, terutama di gampong-gampong, memiliki usaha sampingan
di bidang ternak. Pendapatan dari usaha ternak ini sangat membantu ekonomi
keluarga. Hanya saja sub sektor
peternakan belum tergarap secara optimal dan terpadu.
Pengembangan sub sektor peternakan didukung
oleh potensi alam Aceh yang memiliki lahan peternakan yang luas dengan
ketersediaan padang rumput hijau yang menjadi sumber pakan ternak. Namun
kayanya potensi sumberdaya alam tersebut tidak sepenuhnya mampu mengangkat
peternakan sebagai sektor yang berdikari dan memiliki pengaruh yang cukup besar
terhadap perekonomian Aceh. Hal tersebut
terlihat dari kontribusinya terhadap PDRB Aceh saat ini baru mencapai angka
5,23 persen.
Tidak hanya pada kontribusi peternakan, sejumlah populasi ternak
di Aceh juga mengalami penurunan. Misalnya, sapi potong populasinya saat ini
mencapai 404.221 ekor dan rata-rata terus mengalami penurunan sebesar 23 persen
dari tahun 2012. Hal ini ikut menyebabkan harga daging sapi di Aceh mahal.
Pemerintah selama ini telah memberikan perhatian pada sub sektor
peternakan. Salah satu programnya adalah pengadaan bibit sapi untuk masyarakat.
Namun, kenyataannya, tidak banyak warga yang sukses di sektor peternakan.
Peternakan belum menjadi andalah pendapatan keluarga. Untuk itu, dinas terkait
perlu mengevaluasi berbagai faktor kelambanan pengembangan sektor ini.
Misalnya, apakah benefeceries (penerima manfaat) sudah tepat sasaran,
apakah program-program penyuluhan dan sebagainya telah dijalankan secara baik,
secara reguler dan berkelanjutan.
Jika digarap dengan serius, sektor peternakan sangat menjanjikan
bagi pendapatan keluarga. Rasyidi (49) di Kecamatan Sampoiniet Kabupaten Aceh
Jaya berhasil hidup makmur dengan usaha ini. Dia bahkan menjadikan usaha ternak
sapi sebagai profesi. Usahanya dari hari ke hari menunjukkan peningkatan yang
cukup signifikan. Pada tahun 2012 Rasyidi memiliki 200 ekor sapi/kerbau, namun
tiga tahun kemudian berkembang menjadi 450 ekor dengan harga jual berkisar Rp
15-45 juta per ekor. Satu hal yang dikeluhkan Rasyidi yaitu dia tidak mampu
mengembangkan bibit sapi unggul dengan ukuran dan berat yang lebih besar. Dalam
hal ini tentu membutuhkan campur tangan pemerintah melalui instansi teknis
terkait.
Rasyidi pantas diangkat sebagai ikon peternak Aceh. Kiranya
instansi terkait perlu mendorong lahirnya minimal seorang Rasyidi di setiap
kabupten/kota. Dengan demikian, Aceh akan surplus daging serta menekan angka
kemiskinan dan pengangguran. Semoga!
·
abu bakar
karim
Dimuat di edisi cetak - TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI 51 | OKTOBER 2015


0 Comments